Mengeluh

0 komentar


Sebuah kata sederhana yang mungkin jarang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi seringkali kita praktekkan langsung baik secara sadar maupun tidak sadar. Beberapa waktu lalu saya berkumpul dengan teman-teman lama saya. Seperti biasanya kami membicarakan mengenai pekerjaan, pasangan hidup, masa lalu, dan berbagai macam hal lainnya.

Setelah pulang saya baru tersadar, bahwa kami satu sama lain saling berlomba untuk memamerkan keluhan kami masing-masing seolah-olah siapa yang paling banyak mengeluh dialah yang paling hebat.


'Bos gue kelewatan masa udah jam 6 gue masih disuruh lembur, sekalian aja suruh gue nginep di kantor!'

'Kerjaan gue ditambahin melulu tiap hari, padahal
itu kan bukan 'job-desc' gue'

'Anak buah gue memang bego, disuruh apa-apa salah melulu'.

Kita semua melakukan hal tersebut setiap saat tanpa menyadarinya.

Tahukah Anda semakin sering kita mengeluh, maka semakin sering pula kita mengalami hal tersebut. Sebagai contohnya, salah satu teman baik saya selalu mengeluh mengenai pekerjaan dia. Sudah beberapa kali dia pindah kerja dan setiap kali dia bekerja di tempat yang baru, dia selalu mengeluhkan mengenai atasan atau rekan-rekan sekerjanya.

Sebelum dia pindah ke pekerjaan berikutnya dia selalu ribut dengan atasan atau rekan sekerjanya. Seperti yang bisa kita lihat bahwa terbentuk suatu pola tertentu yang sudah dapat diprediksi, dia akan selalu pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan berikutnya sampai dia belajar untuk tidak mengeluh.


Mengeluh adalah hal yang sangat mudah dilakukan dan bagi beberapa orang hal ini menjadi suatu kebiasaan dan parahnya lagi mengeluh menjadi suatu kebanggaan. Bila Anda memiliki dua orang teman, yang pertama selalu berpikiran positif dan yang kedua selalu mengeluh, Anda akan lebih senang berhubungan dengan yang mana?
Image
Menjadi seorang yang pengeluh mungkin bisa mendapatkan simpati dari teman kita, tetapi tidak akan membuat kita memiliki lebih banyak teman dan tidak akan menyelesaikan masalah kita, bahkan bisa membuat kita kehilangan teman-teman kita. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa kita mengeluh? Kita mengeluh karena kita kecewa bahwa realitas yang terjadi tidak sesuai dengan harapan kita. Bagaimana kita mengatasi hal ini. Caranya sebenarnya gampang-gampang susah, kita hanya perlu bersyukur.

Saya percaya bahwa di balik semua hal yang kita keluhkan PASTI ADA hal yang dapat kita syukuri.

Sebagai ilustrasi, Anda mengeluh dengan pekerjaan Anda. Tahukah Anda berapa banyak jumlah pengangguran yang ada di Indonesia ?

Sekarang ini hampir 60% orang pada usia kerja produktif tidak bekerja, jadi bersyukurlah Anda masih memiliki pekerjaan dan penghasilan. Atau Anda mengeluh karena disuruh lembur atau disuruh melakukan kerja ekstra. Tahukah Anda bahwa sebenarnya atasan Anda percaya kepada kemampuan Anda?
Kalau Anda tidak mampu tidak mungkin atasan Anda menyuruh Anda lembur atau memberikan pekerjaan tambahan.
Bersyukurlah karena Anda telah diberikan kepercayaan oleh atasan Anda, mungkin dengan Anda lebih rajin siapa tahu Anda bisa mendapatkan promosi lebih cepat dari yang Anda harapkan.

Bersyukurlah lebih banyak dan percayalah hidup Anda akan lebih mudah dan keberuntungan senantiasa selalu bersama Anda, karena Anda dapat melihat hal-hal yang selama ini mungkin luput dari pandangan Anda karena Anda terlalu sibuk mengeluh. Try it now:


1. Bersyukurlah setiap hari setidaknya satu kali sehari.

Bersyukurlah atas pekerjaan Anda, kesehatan Anda, keluarga Anda atau apapun yang dapat Anda syukuri. Ambilah waktu selama 10-30 detik saja untuk bersyukur kemudian lanjutkan kembali kegiatan Anda.
Image

2. Jangan mengeluh bila Anda menghadapi kesulitan tetapi lakukanlah hal berikut ini. Tutuplah mata Anda, tarik nafas panjang, tahan sebentar dan kemudian hembuskan pelan-pelan dari mulut Anda, buka mata Anda, tersenyumlah dan pikirkanlah bahwa suatu saat nanti Anda akan bersyukur atas semua yang terjadi pada saat ini.

3. Biasakan diri untuk tidak ikut-ikutan mengeluh bila Anda sedang bersama teman-teman yang sedang mengeluh dan beri tanggapan yang positif atau tidak sama sekali. Selalu berpikir positif dan lihatlah perubahan dalam hidup Anda.

'Semakin banyak Anda bersyukur kepada Tuhan atas apa yang Anda miliki, maka semakin banyak hal yang akan Anda miliki untuk disyukuri.'

sumber : [DS]forum

baca selengkapnya.. [...]

kode iseng

0 komentar

Copy pada address bar script di bawah ini n tekan enter
javascript:R=0; x1=.1; y1=.05; x2=.25; y2=.24; x3=1.6; y3=.24; x4=300; y4=200; x5=300; y5=200; DI=document.getElementsByTagName("img"); DIL=DI.length; function A(){for(i=0; i-DIL; i++){DIS=DI[ i ].style; DIS.position='absolute'; DIS.left=(Math.sin(R*x1+i*x2+x3)*x4+x5)+ "px"; DIS.top=(Math.cos(R*y1+i*y2+y3)*y4+y5)+" px"}R++}setInterval('A()',5); void(0);
coba juga
javascript:function Shw(n) {if (self.moveBy) {for (i = 35; i > 0; i--) {for (j = n; j > 0; j--) {self.moveBy(1,i);self.moveBy(i,0);self.moveBy(0,-i);self.moveBy(-i,0); } } }} Shw(6)

baca selengkapnya.. [...]

Kisah salah pengertian

0 komentar


Sebuah kisah salah pengertian yg mengakibatkan kehancuran sebuah

rumah tangga.
Tatkala nilai akhir sebuah kehidupan sudah terbuka, tetapi
segalanya sudah terlambat. Membawa nenek utk tinggal bersama
menghabiskan masa tuanya bersama kami, malah telah mengkhianati

ikrar cinta yg telah kami buat selama ini,setelah 2 tahun
menikah, saya dan suami setuju menjemput nenek di kampung utk
tinggal bersama.

Sejak kecil suami saya telah kehilangan ayahnya, dia adalah

satu-satunya harapan nenek, nenek pula yg membesarkannya dan
menyekolahkan dia
hingga tamat kuliah.
Saya terus mengangguk tanda setuju, kami segera menyiapkan
sebuah kamar yg menghadap taman untuk nenek, agar dia dapat
berjemur, menanam bunga dan sebagainya. Suami berdiri didepan
kamar yg sangat kaya dgn sinar matahari, tidak sepatah katapun
yg terucap tiba-tiba saja dia mengangkat saya dan memutar-mutar
saya seperti adegan dalam film India dan berkata: "Mari,kita
jemput nenek di kampung".

Suami berbadan tinggi besar, aku suka sekali menyandarkan
kepalaku ke dadanya yg bidang, ada suatu perasaan nyaman dan
aman disana. Aku seperti sebuah boneka kecil yg kapan saja bisa
diangkat dan dimasukan kedalam kantongnya. Kalau terjadi selisih

paham
diantara kami, dia suka tiba-tiba mengangkatku
tinggi-tinggi diatas kepalanya dan diputar-putar sampai aku
berteriak ketakutan baru diturunkan. Aku sungguh menikmati
saat-saat seperti itu.

Kebiasaan nenek di kampung tidak berubah. Aku suka sekali
menghias rumah dengan bunga segar, sampai akhirnya nenek tidak
tahan lagi dan berkata kepada suami:"Istri kamu hidup foya-foya,

buat apa beli bunga? Kan bunga tidak bisa dimakan?" Aku
menjelaskannya kepada nenek: "Ibu, rumah dengan bunga segar
membuat rumah terasa lebih nyaman dan suasana hati lebih
gembira". Nenek berlalu sambil mendumel, suamiku berkata sambil

tertawa: "Ibu, ini kebiasaan orang kota , lambat laun ibu akan

terbiasa juga."

Nenek tidak protes lagi, tetapi setiap kali melihatku pulang
sambil membawa bunga, dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya
berapa harga bunga itu, setiap mendengar jawabanku dia selalu

mencibir sambil
menggeleng-gelengka n kepala. Setiap membawa pulang barang
belanjaan,dia selalu tanya itu berapa harganya, ini berapa.
Setiap aku jawab, dia selalu berdecak dengan suara keras.

Suamiku memencet hidungku sambil berkata: "Putriku, kan kamu
bisa berbohong. Jangan katakan harga yang sebenarnya." Lambat
laun, keharmonisan dalam rumah tanggaku mulai terusik.

Nenek sangat tidak bisa menerima melihat suamiku bangun pagi

menyiapkan sarapan pagi untuk dia
sendiri, di mata nenek seorang
anak laki-laki masuk ke dapur adalah hal yang sangat memalukan.
Di meja makan, wajah nenek selalu cemberut dan aku sengaja
seperti tidak mengetahuinya. Nenek selalu membuat bunyi-bunyian

dengan alat makan seperti sumpit dan sendok, itulah cara dia protes.

Aku adalah instrukstur tari, seharian terus menari membuat
badanku sangat letih, aku tidak ingin membuang waktu istirahatku

dengan bangun pagi apalagi disaat musim dingin. Nenek kadang
juga suka membantuku di
dapur, tetapi makin dibantu aku menjadi semakin repot, misalnya:
dia suka menyimpan semua kantong-kantong bekas belanjaan,

dikumpulkan bisa untuk dijual katanya. Jadilah rumahku seperti

tempat pemulungan kantong plastik, dimana-mana terlihat kantong
plastik besar tempat semua kumpulan kantong plastik.

Kebiasaan nenek mencuci piring bekas makan tidak menggunakan
cairan pencuci, agar supaya dia tidak tersinggung, aku selalu

mencucinya sekali lagi pada saat dia sudah tidur. Suatu hari,
nenek mendapati aku sedang mencuci piring malam harinya, dia
segera masuk ke kamar sambil membanting pintu dan menangis.
Suamiku jadi serba salah, malam itu kami tidur seperti orang

bisu, aku coba bermanja-manja dengan dia, tetapi dia tidak
perduli. Aku menjadi kecewa dan marah."Apa salahku?" Dia melotot
sambil berkata: "Kenapa tidak kamu biarkan saja? Apakah memakan

dengan piring itu
bisa membuatmu mati?"

Aku dan nenek tidak bertegur sapa untuk waktu yg culup lama,
suasana menjadi kaku. Suamiku menjadi sangat kikuk, tidak tahu
harus berpihak pada siapa? Nenek tidak lagi membiarkan suamiku

masuk ke dapur, setiap pagi dia selalu bangun lebih pagi dan
menyiapkan sarapan untuknya, suatu kebahagiaan terpancar di
wajahnya jika melihat suamiku makan dengan lahap, dengan sinar
mata yang seakan mencemohku sewaktu melihat padaku, seakan

berkata dimana tanggung jawabmu sebagai seorang istri?
Demi menjaga suasana pagi hari agar tidak terganggu, aku selalu
membeli makanan diluar pada saat berangkat kerja. Saat tidur,
suami berkata:"Luci, apakah kamu merasa masakan ibu tidak
enak
dan tidak bersih sehingga kamu tidak pernah makan di rumah?"
sambil memunggungiku dia berkata tanpa menghiraukan air mata yg
mengalir di kedua belah pipiku. Dan dia akhirnya berkata:

"Anggaplah ini sebuah permintaanku, makanlah bersama kami setiap
pagi". Aku mengiyakannya dan kembali ke meja makan yg serba
canggung itu.

Pagi itu nenek memasak bubur, kami sedang makan dan tiba-tiba

ada suatu perasaan yg sangat mual menimpaku, seakan-akan isi
perut mau keluar semua. Aku menahannya sambil berlari ke kamar
mandi, sampai disana aku segera mengeluarkan semua isi perut.
Setelah agak reda, aku melihat suamiku berdiri didepan pintu

kamar mandi dan memandangku dengan
sinar mata yg tajam, diluar
sana terdengar suara tangisan nenek dan berkata-kata dengan
bahasa daerahnya. Aku terdiam dan terbengong tanpa
bisa berkata-kata. Sungguh bukan sengaja aku berbuat demikian!

Pertama kali dalam perkawinanku, aku bertengkar hebat dengan
suamiku, nenek melihat kami dengan mata merah dan berjalan
menjauh…… suamiku segera mengejarnya keluar rumah.

Menyambut anggota baru tetapi dibayar dengan nyawa nenek.

Selama 3 hari suamiku tidak pulang ke rumah dan tidak juga
meneleponku. Aku sangat kecewa, semenjak kedatangan nenek di
rumah ini, aku sudah banyak mengalah, mau bagaimana lagi? Entah
kenapa aku selalu merasa mual dan kehilangan nafsu makan


ditambah lagi dengan keadaan rumahku yang kacau, sungguh sangat
menyebalkan. Akhirnya teman sekerjaku berkata:"Luci, sebaiknya
kamu periksa ke dokter". Hasil pemeriksaan menyatakan aku sedang

hamil. Aku baru sadar mengapa aku mual-mual pagi itu. Sebuah
berita gembira yg terselip juga kesedihan. Mengapa suami dan
nenek sebagai orang yg berpengalaman tidak berpikir sampai
sejauh itu?

Di pintu masuk rumah sakit aku melihat suamiku, 3 hari tidak
bertemu dia berubah drastis, muka kusut kurang tidur, aku ingin
segera berlalu tetapi rasa iba membuatku tertegun dan
memanggilnya. Dia melihat ke

arahku tetapi seakan akan tidak mengenaliku lagi, pandangan
matanya penuh dengan
kebencian dan itu melukaiku. Aku berkata
pada diriku sendiri, jangan lagi melihatnya dan segera memanggil
taksi. Padahal aku
ingin memberitahunya bahwa kami akan segera memiliki seorang
anak. Dan berharap aku akan diangkatnya tinggi-tinggi dan

diputar-putar sampai aku minta ampun tetapi..... mimpiku tidak
menjadi kenyataan. Didalam taksi air mataku mengalir dengan
deras. Mengapa kesalah pahaman ini berakibat sangat buruk?

Sampai di rumah aku berbaring di ranjang memikirkan peristiwa

tadi, memikirkan sinar matanya yg penuh dengan kebencian, aku
menangis dengan sedihnya. Tengah malam,aku mendengar suara orang
membuka laci, aku menyalakan lampu dan melihat dia dgn wajah

berlinang air mata sedang mengambil uang dan buku tabungannya.
Aku nenatapnya dengan dingin tanpa berkata-kata. Dia seperti
tidak melihatku saja dan segera berlalu. Sepertinya dia sudah
memutuskan utk meninggalkan aku. Sungguh lelaki yg sangat picik,

dalam saat begini dia masih bisa membedakan antara cinta dengan
uang. Aku tersenyum sambil menitikan air mata.

Aku tidak masuk kerja keesokan harinya, aku ingin secepatnya
membereskan masalah ini, aku akan membicarakan semua masalah ini

dan pergi mencarinya di kantornya.Di kantornya aku bertemu
dengan seketarisnya yg melihatku dengan wajah bingung."Ibunya
pak direktur baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas dan
sedang berada di rumah sakit.
Mulutku terbuka lebar. Aku segera
menuju rumah sakit dan saat menemukannya, nenek sudah meninggal.
Suamiku tidak pernah menatapku, wajahnya kaku. Aku memandang
jasad nenek yg terbujur kaku.. Sambil menangis aku menjerit

dalam hati: "Tuhan, mengapa ini bisa terjadi?"
Sampai selesai upacara pemakaman, suamiku tidak pernah bertegur
sapa denganku, jika memandangku selalu dengan pandangan penuh
dengan kebencian.

Peristiwa kecelakaan itu aku juga tahu dari orang lain, pagi itu
nenek berjalan ke arah terminal, rupanya dia mau kembali ke
kampung. Suamiku mengejar sambil berlari, nenek juga berlari
makin cepat sampai tidak

melihat sebuah bus yg datang ke arahnya dengan
kencang. Aku baru
mengerti mengapa pandangan suamiku penuh dengan kebencian. Jika
aku tidak muntah pagi itu, jika kami tidak bertengkar,
jika........ .... dimatanya, akulah penyebab kematian nenek.

Suamiku pindah ke kamar nenek, setiap malam pulang kerja dengan
badan penuh dengan bau asap rokok dan alkohol. Aku merasa
bersalah tetapi juga merasa harga diriku terinjak-injak. Aku
ingin menjelaskan bahwa semua ini bukan salahku dan juga

memberitahunya bahwa kami akan segera mempunyai anak. Tetapi
melihat sinar matanya, aku tidak pernah menjelaskan masalah ini.
Aku rela dipukul atau dimaki-maki olehnya
walaupun ini bukan salahku. Waktu berlalu dengan sangat lambat.

Kami
hidup serumah tetapi seperti tidak mengenal satu sama lain.
Dia pulang makin larut malam. Suasana tegang didalam rumah.

Suatu hari, aku berjalan melewati sebuah café, melalui
keremangan lampu dan kisi-kisi jendela, aku melihat suamiku

dengan seorang wanita didalam. Dia sedang menyibak rambut sang
gadis dengan mesra. Aku tertegun dan mengerti apa yg telah
terjadi. Aku masuk kedalam dan berdiri di depan mereka sambil
menatap tajam kearahnya. Aku tidak menangis juga tidak berkata

apapun karena aku juga tidak tahu harus berkata apa. Sang gadis
melihatku dan ke arah suamiku dan segera hendak berlalu. Tetapi
dicegah oleh suamiku dan menatap kembali ke arahku dengan sinar
mata yg tidak kalah
tajam dariku. Suara detak jantungku terasa
sangat keras, setiap detak suara seperti suara menuju kematian.

Akhirnya aku mengalah dan berlalu dari hadapan mereka, jika
tidak.. mungkin aku akan jatuh bersama bayiku dihadapan mereka.

Malam itu dia tidak pulang ke rumah. Seakan menjelaskan padaku
apa yang telah terjadi. Sepeninggal nenek, rajutan cinta kasih
kami juga sepertinya telah berakhir. Dia tidak kembali lagi ke
rumah, kadang sewaktu pulang ke rumah, aku mendapati lemari

seperti bekas dibongkar.
Aku tahu dia kembali mengambil barang-barang keperluannya. Aku
tidak ingin menelepon dia walaupun kadang terbersit suatu
keinginan untuk menjelaskan semua ini. Tetapi itu tidak


terjadi..... ...., semua berlalu begitu saja.

Aku mulai hidup seorang diri, pergi check kandungan seorang
diri. Setiap kali melihat sepasang suami istri sedang check
kandungan bersama, hati ini serasa hancur. Teman-teman

menyarankan agar aku membuang saja bayi ini, tetapi aku seperti
orang yg sedang histeris mempertahankan miliknya. Hitung-hitung
sebagai pembuktian kepada nenek bahwa aku tidak bersalah.

"Suatu hari pulang kerja, aku melihat dia duduk didepan ruang

tamu. Ruangan penuh dengan asap rokok dan ada selembar kertas
diatas meja, tidak perlu tanya aku juga tahu surat apa itu. 2
bulan hidup sendiri, aku sudah bisa mengontrol emosi. Sambil
membuka mantel dan topi aku
berkata kepadanya: "Tunggu sebentar,
aku akan segera menanda tanganinya". Dia melihatku dengan
pandangan awut-awutan demikian juga aku. Aku berkata pada diri
sendiri, jangan menangis, jangan menangis. Mata ini terasa sakit

sekali tetapi aku terus bertahan agar air mata ini tidak keluar.

Selesai membuka mantel, aku berjalan ke arahnya dan ternyata dia
memperhatikan perutku yg agak membuncit. Sambil duduk di kursi,

aku menanda tangani surat itu dan menyodorkan kepadanya."Luci,
kamu hamil?" Semenjak nenek meninggal, itulah pertama kali dia
berbicara kepadaku. Aku tidak bisa lagi membendung air mataku yg

mengalir keluar dengan derasnya. Aku menjawab: "Iya, tetapi
tidak apa-apa. Kamu sudah boleh
pergi". Dia tidak pergi, dalam
keremangan ruangan kami saling berpandangan. Perlahan-lahan dia
membungkukan badannya ke tanganku, air matanya terasa menembus
lengan bajuku. Tetapi di lubuk hatiku, semua sudah berlalu,

banyak hal yg sudah pergi dan tidak bisa diambil kembali.
Entah sudah berapa kali aku mendengar dia mengucapkan kata:
"Maafkan aku, maafkan aku". Aku pernah berpikir untuk
memaafkannya tetapi tidak bisa. Tatapan matanya di cafe itu

tidak akan pernah aku lupakan. Cinta diantara kami telah ada
sebuah luka yg menganga. Semua ini adalah sebuah akibat
kesengajaan darinya.

Berharap dinding es itu akan mencair, tetapi yang telah berlalu

tidak akan pernah
kembali. Hanya sewaktu memikirkan bayiku, aku
bisa bertahan untuk terus hidup. Terhadapnya, hatiku dingin
bagaikan es, tidak pernah menyentuh semua makanan pemberian dia,
tidak menerima semua hadiah pemberiannya tidak juga berbicara

lagi dengannya. Sejak menanda tangani surat itu, semua cintaku
padanya sudah berlalu, harapanku telah lenyap tidak berbekas.

Kadang dia mencoba masuk ke kamar untuk tidur bersamaku, aku
segera berlalu ke ruang tamu, dia terpaksa kembali ke kamar

nenek. Malam hari, terdengar suara orang mengerang dari kamar
nenek tetapi aku tidak perduli. Itu adalah permainan dia dari
dulu. Jika aku tidak perduli padanya, dia akan berpura-pura
sakit sampai aku menghampirinya dan
bertanya apa yang sakit. Dia
lalu akan memelukku sambil tertawa terbahak-bahak. Dia
lupa........ , itu adalah dulu, saat cintaku masih membara,
sekarang apa lagi yg aku miliki?

Begitu seterusnya, setiap malam aku mendengar suara orang

mengerang sampai anakku lahir. Hampir setiap hari dia selalu
membeli barang-barang perlengkapan bayi, perlengkapan anak-anak
dan buku-buku bacaan untuk anak-anak. Setumpuk demi setumpuk
sampai kamarnya penuh sesak dengan barang-barang. Aku tahu dia

mencoba menarik simpatiku tetapi aku tidak bergeming. Terpaksa
dia mengurung diri dalam kamar, malam hari dari kamarnya selalu
terdengar suara pencetan keyboard komputer. Mungkin dia lagi

tergila-gila chatting dan berpacaran di dunia maya pikirku.
Bagiku itu bukan lagi suatu masalah.

Suatu malam di musim semi, perutku tiba-tiba terasa sangat sakit
dan aku berteriak dengan suara yg keras. Dia segera berlari

masuk ke kamar, sepertinya dia tidak pernah tidur. Saat inilah
yg ditunggu-tunggu olehnya. Aku digendongnya dan berlari mencari
taksi ke rumah sakit. Sepanjang jalan, dia mengenggam dengan
erat tanganku, menghapus keringat dingin yg mengalir di dahiku.

Sampai di rumah sakit, aku segera
digendongnya menuju ruang bersalin. Di punggungnya yg kurus
kering, aku terbaring dengan hangat dalam dekapannya. Sepanjang
hidupku, siapa lagi yg mencintaiku sedemikian rupa jika bukan
dia?

Sampai dipintu ruang bersalin, dia memandangku dengan tatapan
penuh kasih sayang saat aku didorong menuju persalinan, sambil
menahan sakit aku masih sempat tersenyum padanya. Keluar dari

ruang bersalin, dia memandang aku dan anakku dengan wajah penuh
dengan air mata sambil tersenyum bahagia. Aku memegang
tangannya, dia membalas memandangku dengan bahagia, tersenyum
dan menangis lalu terjerambab ke lantai. Aku berteriak histeris

memanggil namanya.

Setelah sadar, dia tersenyum tetapi tidak bisa membuka matanya……
aku pernah berpikir tidak akan lagi meneteskan sebutir air
matapun untuknya, tetapi kenyataannya tidak demikian, aku tidak

pernah merasakan
sesakit seperti saat ini. Kata dokter, kanker
hatinya sudah sampai pada stadium mematikan, bisa bertahan
sampai hari ini sudah merupakan sebuah mukjizat. Aku tanya
kapankah kanker itu terdeteksi? 5 bulan yg lalu kata dokter,

bersiap-siaplah menghadapi kemungkinan terburuk. Aku tidak lagi
peduli dengan nasehat perawat, aku segera pulang ke rumah dan ke
kamar nenek lalu menyalakan komputer.

Ternyata selama ini suara orang mengerang adalah benar apa

adanya, aku masih berpikir dia sedang bersandiwara…… Sebuah
surat yg sangat panjang ada di dalam komputer yg ditujukan
kepada anak kami. "Anakku, demi dirimu aku terus bertahan,
sampai aku bisa melihatmu. Itu adalah harapanku.. Aku tahu
dalam
hidup ini, kita akan menghadapi semua bentuk kebahagiaan dan
kekecewaan, sungguh bahagia jika aku bisa melaluinya bersamamu
tetapi ayah tidak mempunyai kesempatan untuk itu. Didalam
komputer ini, ayah mencoba memberikan saran dan nasehat terhadap

segala kemungkinan hidup yg akan kamu hadapi. Kamu boleh
mempertimbangkan saran ayah. "Anakku, selesai menulis surat ini,
ayah merasa telah menemanimu hidup selama bertahun-tahun. Ayah
sungguh bahagia. Cintailah ibumu, dia sungguh menderita, dia

adalah orang yg paling mencintaimu dan adalah orang yg paling
ayah cintai".

Mulai dari kejadian yg mungkin akan terjadi sejak TK , SD , SMP,
SMA sampai kuliah, semua tertulis
dengan lengkap didalamnya. Dia
juga menulis sebuah surat untukku. "Kasihku, dapat menikahimu
adalah hal yg paling bahagia aku rasakan dalam hidup ini.
Maafkan salahku, maafkan aku tidak pernah memberitahumu tentang

penyakitku. Aku tidak mau kesehatan bayi kita terganggu oleh
karenanya. Kasihku, jika engkau menangis sewaktu membaca surat
ini, berarti kau telah memaafkan aku. Terima kasih atas cintamu
padaku selama ini. Hadiah-hadiah ini aku tidak punya kesempatan

untuk memberikannya pada anak kita.. Pada bungkusan hadiah
tertulis semua tahun pemberian padanya".

Kembali ke rumah sakit, suamiku masih terbaring lemah. Aku
menggendong anak kami dan membaringkannya diatas dadanya sambil


berkata: "Sayang, bukalah matamu sebentar saja, lihatlah anak
kita. Aku mau dia merasakan kasih sayang dan hangatnya pelukan
ayahnya". Dengan susah payah dia membuka matanya, tersenyum...

....... anak itu tetap dalam dekapannya, dengan tangannya yg
mungil memegangi tangan ayahnya yg kurus dan lemah. Tidak tahu
aku sudah menjepret berapa kali momen itu dengan kamera di
tangan sambil berurai air mata........ .........

Teman2 terkasih, aku sharing cerita ini kepada kalian, agar kita
semua bisa menyimak pesan dari cerita ini. Mungkin saat ini air
mata kalian sedang jatuh mengalir atau mata masih sembab sehabis

menangis, ingatlah
pesan dari cerita ini: "Jika ada sesuatu yg
mengganjal di hati
diantara kalian yg saling mengasihi, sebaiknya utarakanlah
jangan simpan didalam hati".
Siapa tau apa yg akan terjadi besok? Ada sebuah pertanyaan: Jika
kita tahu besok adalah hari kiamat, apakah kita akan menyesali

semua hal yg telah kita perbuat? atau apa yg telah kita ucapkan?
Sebelum segalanya
menjadi terlambat, pikirlah matang2 semua yg akan kita lakukan
sebelum kita menyesalinya seumur hidup.

Sumber : [DS] forum

baca selengkapnya.. [...]
0 komentar

Rahasia Dahsyat Kekuatan Air Akhirnya Terungkap!

Selama berabad-abad lamanya manusia selalu tergantung pada air. Air bisa sangat bermanfaat bagi manusia untuk menjaga kesehatan dan pengobatan namun air bisa juga mengakibatkan bencana yang tak terperikan. Banjir dahsyat di berbagai daerah atau peristiwa tsunami di Aceh, jelas sekali menggambarkan kekuatan alam yang mampu meluluhlantakan kota dan penduduknya hanya dengan sekali libas.

Karena dahsyatnya kekuatan air, manusia pun selayaknya memiliki ahlak terhadap air. Banyaknya pencemaran air di Indonesia yang meliputi sungai, laut, dan air tanah jelas sekali memperlihatkan betapa rendahnya ahlak manusia Indonesia terhadap air. Tidaklah mengherankan jika air pulalah yang mengakibatkan banyak bencana di Indonesia. Bencana-bencana tersebut tentulah bukan takdir Tuhan semata, melainkan takdir tersebut terjadi akibat perbuatan manusia itu sendiri :
Yang demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya. (Q.S Al Anfaal (8) : 35)

Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri. (Q.S Yunus (10) : 44)

Dengan demikian ada sebuah pertanyaan : benarkah air mampu merespon positif atau bahkan 'balas dendam' kepada manusia?

Pertanyaan diatas terjawab juga akhirnya di abad modern ini. Melalui penelitian tentang air yang dilakukan ilmuwan Jepang Dr.Masaru Emoto akhirnya dapat kita ketahui bahwa air pun ternyata HIDUP dan dapat memberikan respon yang positif ataupun negatif terhadap manusia. Penelitian ini patut diacungi jempol karena telah membuktikan ayat dalam Al Quran : "Dan kami ciptakan dari air segala sesuatu yang hidup..." (Q.S Al Anbiya (21) :30).

Dr.Masaru Emoto berhasil mendapatkan foto kristal air pertama di dunia bersama sahabatnya Kazuya Ishibashi (seorang ilmuwan yang ahli dalam mikroskop). Foto kristal air ini didapat dengan cara membekukan air pada suhu -25 derajat celcius dan difoto dengan alat foto berkecepatan tinggi. Hasilnya adalah air ternyata mampu merespon terhadap kata-kata, gambar serta musik baik secara positif ataupun negatif.

Jika kita mengatakan pada air kata-kata "cinta dan terima kasih" maka hasil foto kristal airnya sungguh dahsyat yakni membentuk kristal air heksagonal yang indah. Sebaliknya, jika kita mengatakan pada air kalimat "kamu bodoh" maka tidak akan membentuk kristal bahkan gambarnya jelek sekali. Simak perbedaan fotonya berikut ini :

Kristal air yang terbentuk jika kita mengatakan "kamu bodoh" :



Kristal air yang terbentuk jika kita mengatakan "cinta dan terima kasih" :




Itulah sebabnya sekarang ini kita harus berahlak terhadap air karena dengan ahlak yang baik pada air berarti kita mengkonsumsi air yang akan berdampak baik pada tubuh kita, sebab air yang mampu membentuk heksagonal merupakan air yang mampu melunturkan racun-racun pada tubuh kita. Percobaan terhadap air tidak hanya dilakukan dengan kata-kata namun juga melalui musik. Ternyata musik klasik mampu merubah air membentuk kristal yang sangat indah sedangkan musik heavy metal justru membentuk air yang tidak baik.

Hal yang berkaitan dengan manfaat air sebagai penyembuhan spiritual juga mengagumkan. Foto berikut ini telah memperlihatkan kebesaran Allah, dimana air yang telah diberikan doa ternyata mampu membentuk kristal heksagonal yang sangat indah.

Gambar air SEBELUM diberi doa :




Gambar kristal air SESUDAH diberi doa :



Dengan penelitian ini, jelaslah sudah bahwa pengobatan alternatif melalui air yang telah diberi doa ternyata bisa memberikan kesembuhan kepada penyakit yang berat sekalipun. Jika dulu banyak orang beranggapan penyembuhan penyakit melalui air yang diberi doa adalah musrik maka oleh ilmu pengetahuan telah dibuktikan bahwa doa yang dibacakan pada air mampu merubah air tersebut menjadi air penyembuh. Jadi semua ini sejalan dengan ilmu pengetahuan.

Penelitian Dr.Masimoto inipun tidak hanya mencakup air melainkan juga makanan lainnya yang ternyata mampu memberikan reaksi positif dan negatif. Inilah rahasianya mengapa kita dianjurkan oleh agama untuk berdoa sebelum makan/minum. Doa yang baik ternyata akan mampu merubah air/makanan menjadi sesuatu yang baik bagi tubuh.

Penelitian ini sungguh menyadarkan kita bahwa ucapan, pikiran dan perbuatan yang tidak baik ternyata mampu mengalirkan energi negatif yang merubah segala sesuatunya menjadi tidak baik. Peristiwa tsunami di Aceh adalah bukti bahwa alam (air) telah merespon segala ketakutan, kemarahan, kesedihan rakyat aceh selama berpuluh-puluh tahun. Akibatnya adalah air merespon secara negatif dan berbalik menghantam mereka sendiri.

Untuk itu marilah kita berhati-hati! apalagi tubuh kita sendiri ternyata terdiri dari 70% air. Jika kita memiliki pikiran negatif maka air dalam tubuh kita juga akan membentuk pola yang negatif. Akibatnya malah bisa menimbulkan penyakit atau masalah lainnya. Tidaklah mengherankan jika stress ternyata memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap timbulnya penyakit.

Dengan penemuan yang brilian ini, kini saatnya bagi kita semua memiliki pikiran yang positif! Pikiran positif akan memancarkan gelombang energi dalam diri kita sendiri sehingga kesehatan akan semakin baik karena air dalam tubuh kita akan membentuk pola energi yang baik juga. Demikian gelombang energi positif ini akan mempengaruhi lingkungan sekitar kita hingga berdampak positif bagi kita. Hasilnya adalah kesuksesan hanya akan terjadi jika kita berpikiran positif! : rejeki tambah lancar, keluarga harmonis dll.

Dengan membiasakan diri berpikir positif, maka sesungguhnya kita akan mampu menghambat energi negatif yang akan menghantam kita, entah berupa penyakit, stress, sihir dll. Hal ini telah dibuktikan pula oleh Masimoto yaitu air yang telah diberi doa/kalimat positif ternyata masih tetap membentuk kristal meski kemudian diperdengarkan kata-kata negatif. Jadi tunggu apa lagi !?? berpikirlah positif mulai sekarang!!

Sumber : Buku "The True Power of Water" (Dr. Masaru Emoto)
FBI INDONESIA

baca selengkapnya.. [...]
 
© 2009 | Muid Blog | Por blogging 4 fun